Friday, August 28, 2015

Bisnis Modal Kecil Untung Besar Usaha Apa

Bisnis dengan modal kecil bisa untung besar, halal dan berkah. Siapa yang tidak mau? Semua pasti mau mengeluarkan uangnya untuk investasi bagi hasil atau usaha sendiri. Peluang usaha seperti apa yang seperti itu? Apakah Al-Quran memberikan solusi bisnis dengan modal kecil? bahkan solusi bisnis tanpa modal?

Jawabannya adalah: Ya! Al-Quran adalah kitab petunjuk yang memberikan penjelasan untuk semua persoalan [Qs.16:89]. Namun sebelum kita membaca solusi Al-Quran terhadap permasalahan ekonomi mikro seperti yang ditanyakan di atas, kita segarkan dulu ingatan kita tentang teori bussines plan yang tidak akan merugi menurut Al-Quran surat Faathir ayat 29, yaitu ketiga point ini:

  1. Membaca Al-Quran secara teori dan praktek.
  2. Mendirikan sholat berjamaah sebagai pembinaan kolektivitas sosial ekonomi.
  3. Berinfaq sebagai pondasi produktivitas sosial ekonomi dan meningkatkan daya beli masyarakat.
Pertanyaan yang layak diajukan, apakah ketiga hal di atas disusun secara sistematis atau secara acak saja? Jika secara sistematis maka yang harus dilakukan adalah point 1 dulu baru lanjut ke point 2 dan 3. Rabbanaa maa khalaqta haadza baathila. Tidak sembarang Allah menyusun kalimat-Nya. Maka tidak sembarang pula kita membacanya. Ini terkait dengan cara membaca secara tartil, yaitu cara baca yang Allah perintahkan kepada para pembaca Al-Quran.


aw zid 'alayhi warattili alqur-aana tartiilan
[Qs.73:4] atau lebih dari seperdua itu. Dan bacalah Al-Quran itu secara tartil

Tartil adalah mashdar (bentuk ke-3) dari kata rattala yurattilu tartiilan. Pada umumnya, kata tartil diartikan sama dengan kata qara-a dan talaa yaitu membaca, padahal ketiganya mempunyai makna yang berbeda dalam penggunaannya. Kita telah membahas perbedaan makna antara qara-a  qiraa-ah dan talaa tilaawah pada pembahasan sebelumnya, kali ini kita akan menelisik makna apa yang dibawa oleh rattala tartiila. Pemahaman ini penting untuk dapat memahami maksud dan tujuan sang penyusun ayat-ayat Al-Quran yaitu Allah Rabbul Alamin.

Kata tartil merujuk kepada sesuatu yang terpadu dan tersistem secara konsisten. Membaca secara tartil dilakukan secara perlahan-lahan, tidak tergesa-gesa, tidak loncat-loncat, tidak samar-sama, huruf harus dilafalkan dengan jelas sesuai dengan sistem bunyinya, terpadu dalam satu kata, tidak pecah, sistematis sesuai urutan kata, kalimat, dan ayat. Hal itu akan membantu pemahaman serta perenungan terhadap Al-Quran.

Demikian, pembaca Al-Quran harus membacanya dengan tartil. Dalam hal ini, para pelaku ekonomi harus membaca Qs.35:29 secara tartil. Itu artinya, teori bussines plan yang diajukan oleh ayat itu harus dibaca secara terpadu dan sistematis. Tidak boleh loncat-loncat, point 2 dulu baru point 1 sudah itu point 3. Membaca secara tartil, dalam hal pengamalan, harus dimulai secara sistematis, point 1 lalu ke point 2 dan 3. Selain sistematis, harus pula terpadu, keseluruhan point itu harus dilakukan, diamalkan.

Yang pertama harus dilakukan agar bisnis tidak merugi adalah baca teori dulu sebelum praktek. Tidak boleh asal beramal, harus berilmu dulu. Bisnis yang tidak akan merugi, tijaaratan lan tabuur menurut istilah Al-Quran, bukanlah bisnis coba-coba. Apa teorinya? bagaimana prakteknya? Point ke-2 menjelaskan point ke-1. Apa sih point-point itu? Oke kita tulis ulang lagi biar nyambung. 

Inilah ke-3 point teori bisnis yang tidak akan merugi, yaitu:

  1. Membaca Al-Quran secara teori dan praktek.
  2. Mendirikan sholat berjamaah sebagai pembinaan kolektivitas sosial ekonomi.
  3. Berinfaq sebagai pondasi produktivitas sosial ekonomi dan meningkatkan daya beli masyarakat.
Teori bisnis itu kita dapat dari Al-Quran surat Faathir ayat 29.

Tentang bisnis, Al-Quran tidak berbicara tentang kapitalisme, tentang kumpulan modal. Tetapi Al-Quran berbicara tentang kumpulan orang yang membentuk kolektivitas sosial ekonomi. Bagaimana membangun kolektivitas tersebut? Shalat berjamaah. Lakukan shalat berjamaah sebagai pembinaan kolektivitas sosial ekonomi. Setelah berjamaah di masjid kemudian lanjutkan dengan berjamaah di pasar.

Dengan adanya kumpulan orang, kita tidak lagi berbicara tentang berapa besar modal yang harus dikeluarkan, tetapi berapa banyak orang yang bisa ikut patungan usaha. Semakin banyak orang yang terlibat dalam patungan usaha, modal pun akan semakin mengecil. Bisa usaha tanpa modal? Bisa! lakukan syirkah abdan. Patungan usaha dengan meleburkan berbagai potensi dan keahlian.

Ini contoh patungan usaha yang sedang berjalan atau sedang dihimpun;

1. Syirkah amlak, kepemilikan asset bersama berupa ruko di Bogor dan Pemalang
2. Syirkah uqud: Farm Biar Riba Raib, pertanian dan peternakan terpadu di Bogor.

Bisnis dengan modal kecil bisa untung besar, halal dan berkah. Siapa yang tidak bisa? Hanya orang yang menyendiri saja yang tidak bisa. Maka, mari kita berhimpun membangun kolektivitas sosial ekonomi. Setelah ada kumpulan orang baru kita bicarakan tentang modal, malah bisa jadi modal usaha itu tidak selalu berupa uang.

Oke sampai di sini dulu, kita lanjutkan pembahasan nanti tentang produktifitas, nah disitu baru kita berbicara tentang modal uang, atau bahkan sudah tidak diperlukan lagi?

5 comments:

  1. assalamu'alaikum, seperti apa rencana selanjutnya dari program investasi ini ? sudah ada yang mengawalinya ? dimana bisa dilihat laporannya ? sukron, barokallhufikum

    ReplyDelete
  2. waalaikumsalam, program khusus anggota, sedang berjalan. Lokasi syirkah amlak atau patungan beli asset ruko di Bogor. survey lokasi setiap hari ahad insya Allah. Untuk menjadi anggota silakan ikut kopdar biar riba raib http://ekonomiberjamaah.blogspot.com/2015/08/jadwal-kopdar-biar-riba-raib.html

    ReplyDelete
    Replies
    1. assalamualaikum.. sy bertani di parungpanjang bogor. harga komoditi pangan disini di tingkat petani/produsen cukup tinggi. masih jarang masyarakat tertarik dngan pertanian dan mudahnya akses ke tangerang serta jkarta menjadikan usaha agribisnis disini sangat berpeluang

      Delete
    2. Waalaikumsalam, apa yang banyak di tanam oleh petani di sana?

      Delete
  3. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete